Pages

December 30, 2017

Tarot- the whys

Saya pernah baca tweet seseorang soal menghargai driver Go-Jek sebagai penyedia jasa. Intinya, mentang-mentang kita bayar bukan berarti bisa semena-mena, karena driver Go-Jek itu adalah manusia. Dan hal yang kayak gini seharusnya common sense. Saya lagi nyari siapa yang ngetweet ini tapi kalau gak salah namanya TATA.

Nah, kali ini saya lagi kesal karena urusan baca-membaca Tarot. Kesalnya saya membuat saya teringat tweet soal Go-Jek tersebut.

Sebagai konteks, saya bisa membaca Tarot. Beberapa teman tahu dan beberapa sering meminta tolong. Beberapa yang lebih oportunis dari saya bahkan menyarankan saya untuk menetapkan tarif membaca Tarot. Suatu hal yang lazim sebenarnya, karena membaca Tarot itu merupakan transaksi energi. Beberapa orang beranggapan memang harus ada timbal baliknya. Membaca Tarot itu melelahkan, sama halnya dengan seorang psikolog yang konseling pasiennya. Capek, karena diharuskan 'membaca' sesuatu yang gak terlihat dan gak berdasar pada huruf atau kata. Ilmu psikologi mungkin 'membaca' pola dan gejala, sedangkan Tarot membaca vibe dan mengandalkan intuisi. 

Kalau kelamaan baca orang, saya bisa gemetar saking capeknya. Terus lapar sekali. Yang parah kalau intens, saya bisa sakit kepala hahaha. Anaknya lemah.

Capek adalah hal yang lumrah dan dipahami semua reader, dan gak terbatas pada Tarot reader aja. Teman saya yang bisa palm reading mengakui hal serupa. Kalau versi dia, dia bisa sampai keringetan dan kelaparan. Makanya dulu pas jaman sekolah, dia sering minta dijajanin sehabis palm-reading temannya.

Makanya gak heran juga kalau beberapa teman banyak menyarankan saya buat menarifkan biaya membaca Tarot, yang mana saya gak lakuin, karena.. gak sampai hati.

Maaf, walau keturunan Cina, otak saya soal urusan melipat-gandakan uang agak mampet.

Alasan utamanya sebenarnya saya merasa bisa baca Tarot itu gift. Jatuhnya buat nolong. Amal. Jadi gak perlu lah ditarifkan. Itu kalau buat saya. 

Yha tapi sama seperti idealisme yang bisa dibeli, mungkin suatu hari nanti kalau saya bokek tiba-tiba saya akan menarifkan jasa membaca Tarot....

ANYWAY. 

Karena saya gak mematok tarif, beberapa teman yang langganan bisa leluasa meminta tolong dibaca ketika lagi ada masalah. Buat teman-teman yang sudah paham aturan main, mungkin mereka lebih bisa maklum sekaligus menahan ego ketika dibaca. 

Jujur, dibaca Tarot itu kadang memuaskan rasa ingin tahu, apalagi soal mengetahui hal-hal yang kita ingin tahu bangettttt seperti contohnya perasaan si dia. Asli, ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh sobat-sobat Tarotku. Biasanya yang awalnya malu-malu lama-lama bisa keenakan nanya terus. Saya sih gak apa, malah senang kalau ditanya spesifik. Bacanya lebih mudah.

Tapi saya bisa naik darah kalau ada orang yang mulai gak 'considerate'. Keenakan dibaca lalu menganggap saya mesin dan ujung-ujungnya maksa.

Dikiranya meluangkan waktu untuk membaca dia itu hal yang mudah, karena cuma soal membuka kartu. Ketika saya lagi serius-seriusnya baca, eh yang dibaca malah asyik petakilan sendiri. Terus kerjaannya cuma ngomong 'udah gini aja? Baca lagi dong!'

Ya baca apa, malih. Kalau hidupmu semenarik tulisan Murakami, gak usah disuruh juga pasti aku inisiatif baca. Nah sekarang, ngana sokap? Emangnya sini aplikasi Google Text to Speech?

Sigh.

Yang kayak gini yang suka bikin saya dongkol sendiri. Niat mau nolong tapi saya sendiri jadi jengkel. Energi negatif. Cuma kalau dipikir-pikir lagi, memang Tarot itu bukan hal yang biasa dan gak banyak yang memahami tata cara Tarot serta kondisi Tarot reader itu sendiri. Karena itu, saya mau coba rangkum di sini; Seni Membaca Tarot.

Ntap.

Seni Membaca Tarot: Apa Itu Tarot?
Tarot adalah kartu yang berisi ilustrasi kaya akan simbol. Terbagi jadi 2, ada Major Arcana dan Minor Arcana. Major Arcana berisi perjalanan hidup dan proses seseorang manusia selayaknya. Minor Arcana berisi kartu-kartu dengan elemen cups (water), swords (air), pentacles (earth), dan wands (fire). Atau ibarat kartu remi, cups itu heart, pentacles itu diamond, swords itu spade, dan wands itu clubs. Detilnya Minor Arcana bisa cek di link ini. Kalau Major Arcana di sini.

Seni Membaca Tarot: Apa yang Harus Saya Siapkan Ketika Ingin Dibaca Tarot?
Karena ada beberapa reader yang menetapkan tarif, jadi tentu jawabannya adalah duit. Ada yang ratusan ribu, ada yang jutaan.
Selain itu, tiap reader punya aturan mainnya sendiri, tapi pada dasarnya, miliki lah akal sehingga bisa menyadari bahwa:
1. Tarot reader itu bukan Tuhan, sehingga
2. Tarot reader gak bisa tuh ya baca kapan you nikah atau kapan you mati atau jodoh you ada di mana.
Kalau masih penasaran sama pertanyaan tipe begitu, saya sarankan main kuis di Buzzfeed atau baca tulisan di Thought Catalog yang macam 'Here's How You Will Die Based on Your Favorite Character'.

Seni Membaca Tarot: Apa yang Bisa Dibaca oleh Tarot Reader?
Secara garis besar,
1. Gambaran kondisi saat ini yang mungkin belum kita sadari.
2. Probabilitas ke depan seperti apa jika kondisi sekarang seperti demikian.
Bonus: 3. Hal-hal intuitive lainnya seperti perasaan si dia ke kamu. Lumayan lah ya?
Intinya tiap reader juga punya batasan apa yang bisa dibaca atau tidak. Ada lho yang bisa membaca tanggal dan angka. Jadi memang baiknya sebelum dibaca ya ajak ngobrol dulu reader-mu. Kalau saya sendiri sih paling gak bisa baca angka dan tanggal. Wong ngitung duit aja masih suka salah.

Seni Membaca Tarot: Bagaimana Seorang Reader Bekerja?
Sekali lagi, tiap reader beda, karena Tarot gak punya aturan pasti. Gak ada salah dan benar karena walau Tarot konon mempunyai teori, gak dipungkiri ada permainan intuisi juga di Tarot. Jadi, kembali ke gaya tiap reader.
Kalau saya sendiri, biasanya saya akan fokuskan diri saya ke orang yang mau dibaca. Macam mau dengerin teman curhat gitu lho, kan harus fokus. Jadi, hoax tuh kalau ada yang bilang baca Tarot harus pakai mantra. Halah, ribet.
Baca Tarot juga soal being a good listener. Bedanya, kita gak cuma dengerin cerita dari mulut orang, tapi juga dari kartu.
Karena saya pakai effort fokus ini lah membaca Tarot itu bisa melelahkan. Dan karena ini juga saya gampang naik darah kalau ada yang sembarangan dan gak menghargai usaha yang dilakukan oleh reader. Gak usah deh baca Tarot, dengerin teman curhat aja biasa kita bisa capek kan? Because we put our attention to them. We listen wholeheartedly. That's why.
Balik lagi soal Tarot. Biasa dimulai dengan satu pertanyaan: mau dibaca apa? Topiknya soal apa? Lalu agak dikerucutkan, ada spesifik atau menurut konteks tertentu gak? Baru dari sana saya baca dan biasanya sih jadi lanjut ngobrol sambil beberapa kali membuka kartu. It's fun, asal gak ngelunjak.

Seni Membaca Tarot: Finally, The Do's &  Don't's
Do's
1. Spesifik dalam bertanya
2. Humbly ask for guidance

Don't's
1. Jangan ngelunjak dan jangan ngikutin ego alias jangan menanyakan hal-hal yang gak perlu kamu tahu dan gak mau kamu tahu sebenarnya tapi karena-kepo-aja-sih.
 2. Minta dibaca karena 'coba dong, gue pengen tahu, akurat gak nih???'

Seni Membaca Tarot: Bonus
Mayoritas reader yang saya tahu biasanya akan lupa apa yang dia baca, jadi percuma kalau beberapa hari kemudian kamu datang ke reader lalu nanya 'kemarin jawaban pertanyaan ini apa ya?' Salah sendiri gak dicatat. Salah sendiri gak nyimak.
Kenapa lupa? Karena kita terbiasa untuk detach. Attachment itu melelahkan. Dan kayaknya memang setting-an semesta seperti ini deh, biar adil dan sekalian biar Tarot reader mulutnya gak julid.
Lagian, ini yang jadi enaknya curhat ke Tarot reader; rahasia aman, karena gimana mau ngebocorin, inget aja kagak.

Kira-kira begitu yang saya bisa rangkum di tengah rasa kantuk saat menulis postingan ini. Tarot is fun, really a fun way to learn about our potentials. Cuma kadang yang suka bikin rusak suasana ya manusianya saja, baik si reader maupun yang dibaca. Karena itu, memang sebaiknya ada rasa saling menghargai dan gak semena-mena.

Gak cuma ke Tarot reader aja sih, atau ke driver Go-Jek aja, tapi juga ke semua manusia di sekitar kita termasuk security, barista, office boy, waiter, dan penyedia jasa lainnya. Karena kita semua sama, manusia. Harus menghargai dan menghormati manusia yang lain seutuhnya manusia.

Dan yang beginian harusnya sudah jadi common sense.
0 comments

December 26, 2017

Sharing is (not always) caring

Beberapa waktu lalu beredar video seorang ibu-ibu menegur sepasang laki-laki yang bermesraan di motor di tengah jalan. Jujur saya males nonton videonya.

Satu sisi buat saya aneh kalau menegur saja harus sambil direkam- dia sendiri lagi yang ngerekam, bukan orang lain- tapi yaaah hak si ibu juga kalau mau menegur karena merasa terganggu. Jadi walau merasa ada yang salah dengan peristiwa tersebut, saya memilih buat ya-sudah-lah-mari-ganti-topik. Masih banyak yang lebih penting untuk dibahas.

Tapi ternyata gak semua orang memilih 'ya sudah lah' seperti saya karena ternyata video tersebut jadi viral dan netizen budiman mulai heboh menyebut dan memuji si ibu dengan sebutan 'the power of emak-emak'.

Lalu hari ini gak kalah ramai beredar sebuah screencapture dari Facebook pernyataan seseorang soal fakta di balik dua laki-laki yang bermesraan tersebut.

Ternyata mereka bukan lah pasangan gay seperti yang dituduh para netizen budiman. Mereka adalah sepasang kakak-adik yang lagi melepas kangen setelah 4 tahun berpisah. 
Dhuar.
Terus sekarang sang adik jadi trauma dan ibu kandung mereka ikutan stress sampai sakit. 
Dhuar. DHUAR.

Btw, ini kutipan penjelasan the powerful emak-emak soal aksi menegur beliau:
Perlu diketahui sy tdk ada maksud untuk terkenal atau menjelekkan org lain. Niat sy hanya kalau kita melihat yg tidak layak tlg tegur, kita wajib untuk itu. Agar tdk berdampak kpd org lain. Tidak perlu dgn kekerasan atau maen hakim sendiri, sy rasa kalau kita menegur dimuka umum itu sudah menjadi tamparan keras, bagi mereka. 

Niatan ibu tersebut baik, yaitu menegur. Tapi saya yakin bahkan guru PPKN saya sewaktu SD juga tidak akan setuju dengan perilaku the powerful emak-emak ini.

Saya ingat betul sejak kecil diajarkan bahwa menegur itu juga ada aturannya sendiri. Menegur itu tetaplah harus sopan dan bersimpati. Menegur juga baiknya tidak di depan umum, cukup personal saja. 

Karena gini, 
menegur itu beda dengan menuduh, makanya simpati diperlukan.
Menegur juga berbeda dengan mempermalukan, karena itu tidak perlu lah buk di depan umum.. apalagi divideoin segala. Duh, ibuuuk.

Saya geram, bukan dengan niatan si ibu, tapi lebih ke perilaku yang apa-apa direkam terus share ke seluruh penjuru media sosial. Saya paham betul bahwa sekarang yang namanya berbagi sudah lazim, tapi perlu lah dibedakan mana yang sifatnya personal dan mana yang tidak, mana yang layak dibagi dan mana yang cukup disimpan sebagai dokumentasi pribadi. Dan kembali lagi, perlu membedakan peristiwa mana yang perlu direkam dan mana yang tidak. Video singkat tanpa konteks seperti ini adalah makanan empuk bagi netizen sumbu pendek untuk segera mencaci. Efeknya apa? Panjang dan merugikan bagi yang tertuduh.

Kalau ibu saya yang merekam aksi dia menegur orang lain seperti ini lalu disebut netizen budiman sebagai the power of emak-emak, saya gak akan bangga. 

Karena the power of emak-emak yang sesungguhnya adalah emak-emak berdaster yang dengan gagah membubarkan tawuran pelajar dengan bermodalkan sapu, yang sewaktu dulu sempat viral. Hormat, buk.
0 comments

December 17, 2017

2017, a (very) short recap

Semakin tambah usia, semakin terasa cepat waktu berlalu.

Entah ke berapa kalinya, tapi yang pasti kembali lagi merasa kemarin baru awal tahun dan tiba-tiba.. poof, beberapa minggu lagi 2017 akan segera pergi. Usia makin bertambah. Kedewasaan? Semoga juga berbanding lurus.

Kalau mau merangkum 2017, tahun ini sesungguhnya tidak berkesan. Tidak seperti biasanya, tahun ini aku jalani tanpa obsesi. Prinsip 'jalani aja' menjadi pedoman aktivitas setiap harinya. Aku tidak punya keinginan ini-itu karena aku tahu bahwa segala keinginan biasanya berbanding terbalik dengan realita yang ada. Ini pelajaran yang didapat dari tahun-tahun sebelum.

Tapi lucunya,  tahun 2017 malah mempunyai beberapa peristiwa yang bisa disorot karena efeknya cukup besar ke diriku; dari soal tiba-tiba ditantang untuk naik menjadi produser sampai akhirnya meninggalkan markas elang yang sudah menjadi seperti rumah empat tahun ke belakang ini.

Aku tidak mau menjabarkan detil perjuangan berdarah-darah ketika ditantang menjadi produser atau pergolakan batin saat ditawari kerjaan yang baru. Yang mau aku ceritakan adalah soal nilai-nilai baru yang aku dapat di tahun 2017 lewat peristiwa-peristiwa besar tersebut.

Satu hal yang kupelajari betul di tahun 2017 adalah soal kemandirian. Aku terbilang seseorang yang cukup mandiri. Solo-traveling bukan hal asing lagi dan menghabiskan waktu sendirian jarang sekali mati gaya, kecuali waktu nonton konser sendirian. Ini agak mati gaya. Enggan untuk coba lagi, terutama di crowd yang sedikit.

Kemandirian di tahun 2017 ini berbeda dari soal kesendirian yang biasa kujalani sebelumnya. Kali  ini lebih ke soal pilihan dan keputusan, karena terkait dengan kedewasaan. Kemandirian ini berakar dari pikiran, yang sifatnya lebih dalam lagi.

Biasanya aku cenderung mengikuti keinginan kolektif, berusaha untuk tidak mencolok. Tapi di tahun ini, beberapa kali aku lebih berani untuk tegas terhadap diriku sendiri. Yang penting itu jujur dulu. Apapun imbasnya nanti bukan hal yang harus terlalu dipikirkan. 

Entah apa pemicunya sampai bisa lebih berani jujur. Bisa jadi karena didorong oleh kesendirian sehingga semakin memahami bahwa pada akhirnya memang aku hanya memiliki diriku sendiri. Jadi kalau tidak jujur dari awal, nanti akhirnya bisa jadi sengsara. 

Menjalani prinsip yang cukup bertentangan dengan prinsip yang dianut kebanyakan orang memang agak gampang-gampang susah, tapi pada akhirnya lebih membebaskan. Aku bisa menjalani hari demi hari tanpa beban, sehingga pikiran pun bisa difokuskan ke hal-hal prioritas. Semoga dengan begitu, hari-hari jadi lebih produktif.

Hari ini 17 Desember 2017. Dua minggu lagi sudah 31 Desember 2017. Besoknya 1 Januari 2018. Dua ribu delapan belas. Kira-kira akan seperti apa ya?
0 comments

December 18, 2016

01:39 PM --- MUSIK DAN RASA JUJUR


Salah satu hal yang suka luput dari acara musik adalah aspek kecintaan terhadap musik itu sendiri. Gak kelihatan, tapi bisa terasa, dan efeknya lumayan besar. Sayangnya, soal ini bukan sesuatu yang bisa diatur dan direncanakan.

Tapi mungkin bisa diusahakan. Mungkin.

Kecintaan terhadap musik di sini maksudnya pada orang-orang yang datang ke festival musik. Apakah datang karena memang tahu dan suka dengan musik yang ditampilkan? Atau, hanya karena ikut-ikutan semata supaya dianggap keren, kekinian, atau apapun itu?

Coachella adalah salah satu festival musik tahunan yang paling ditunggu di California. Di tahun 2013, tim Jimmy Kimmel pernah membuat Lie Witness News di Coachella. Singkat ceritanya, mereka mewawancara pengunjung Coachella tentang band, yang sebenernya palsu.

Hasilnya? Banyak dari para pengunjung yang ternyata tahu akan band palsu itu, dan gak sabar menonton penampilan mereka di Coachella. Lucu ya, hahaha.


Intinya sih, video ini nunjukkin kalau banyak dari pengunjung Coachella yang ternyata mahir berpura-pura demi kekerenan semata.

Ini maksudku soal kecintaan terhadap musik itu sendiri. Datang ke acara musik karena pengen menikmati musiknya, bukan buat vlogging, selfie, IG stories, dan gegayaan aja. Gak ada yang salah sih kalau datang cuma buat seru-seruan, tapi vibe festivalnya gak bisa dibohongi.

Synchronize Festival di akhir Oktober lalu adalah salah satu acara musik yang sangattt aku nikmati. Festival ini multi-genre, dan rasanya orang-orang yang datang memang karena ingin menikmati musiknya. Bohong sih kalau dari ratusan line-up yang ada aku mengaku mendengarkan semuanya. Tentu enggak. Begitupun orang-orang yang lainnya rasa-rasanya. Tapi yang pasti, tiap band mempunyai penontonnya sendiri.


Ada 4 panggung di sana yang aku lupa namanya, cuma ingat District Stage (karena di sana tempat HMGNC tampil, heheu). Di jadwal, HMGNC tampil pukul 14:15. Sekitar setengah jam sebelum, beberapa orang sudah mangkal di sekitaran District Stage yang kosong dan tepat pukul 14:15, Grahadea dan Dina naik panggung serta disusul Debby gak lama kemudian (Debby saat itu menggantikan Manda yang masih berduka). Orang-orang langsung berkumpul ke depan panggung. Hanya 6 lagu yang dibawakan. Tepat setengah jam kemudian sesuai jadwal,  HMGNC turun panggung.

Hm, festival musik yang tepat waktu.

Lalu kami berkeliling lagi menanti Elephant Kind di stage lainnya. Saat itu, stage tersebut masih diisi Komunal dan crowd-nya pun milik mereka. Aku cukup menonton dari jauh. Gak lama mereka selesai, massa yang berbeda segera berkumpul di depan panggung tersebut, menanti Elephant Kind.                    

Setelah Elephant Kind, kami berputar mencari makan. Kebetulan food area ada di dekat salah satu stage dan saat itu di stage tersebut Agrikulture sedang berteriak-teriak Disko di Rumah. Mereka yang di depan stage lagi sibuk berdansa sambil setengah tipsy karena amer, mungkin, hihi. Bukan pengikut setia Agrikulture, tapi walau hanya melihat dari jauh, aku menikmati suasana dan keceriaan crowd depan panggung yang asik berdansa dengan Agrikulture. 

Foto oleh @sancoyopurnomo 

Aku pernah datang ke acara musik yang rasa-rasanya para pengunjung yang datang gak bertujuan untuk menonton musiknya. Waktu itu vibe tempatnya berisi orang-orang yang lebih asik menikmati beer & wine daripada menonton musisi yang tampil. Aku datang karena ingin menonton Santamonica, walau ada juga band yang lain, tapi berhubung waktu itu adalah penampilan pertama Santamonica setelah 3 tahun absen, jadinya prioritasku ada di mereka donggg. Dan bisa ditebak, ketika Santamonica tampil, penontonnya bengong dan acuh-tak-acuh. Dan rasanya kalau diperhatikan (dan diingat-ingat sambil malu), I was the only one dancing.

Sebenarnya antara peduli-gak peduli soal aspek kesukaan terhadap musik ini, toh tiap orang punya tujuan dan kesukaannya masing-masing, tapi memang kuakui beda sekali rasanya. Berada di crowd yang jujur rasanya batas antara teman dan orang asing jadi bias. Aku pernah sekali datang ke Oktobeerfest dan HMGNC tampil pecah sekali. Semua orang menari. Aku awalnya hanya sendiri di depan panggung, tapi lambat laun karena asyik menari, aku pun tiba-tiba jadi menari dengan seseorang tanpa disadari, hahaha. Ketika HMGNC turun panggung, barulah kita berkenalan.

Pulang dari Oktobeerfest, I felt really energized. Pengalaman yang menyenangkan sekaligus magis. It’s magical how music conquers all the barriers, and people are dancing together.

Dan bukankah itu tujuan musik? Mempersatukan orang-orang, sehingga bisa menari bersama, sejenak melupakan masalah yang ada, dan menikmati moment yang ada. Right here, right now.
1 comments

January 30, 2016

14/366 -- THIS GIRL RIGHT HERE IS 25!

Yayyyyyyyyyy.
(Well, actually it's been more than 2 weeks since my birthday when I wrote this post)
I never took birthday seriously, for me it’s just another day. I love new years and Christmas, it’s more special. BUT, being 25 is different. After things that happened last year, being 25 feels so… exciting. I’m super excited what life has in store for me. I’m not thinking about marriage, kids, or anything related to it (yet)- I’m more excited to be… me. 

For me, 24 was such a rollercoaster; sometimes it was so flat I interested in nothing, but the other time it was so challenging I had no idea what to do. One day I thought I knew myself, but the next day I was completely surprised by the way I handled things. 

I’ve felt so low, so down, I didn’t think I could get up again. I’ve also felt like I was at the very best. Everything happened rapidly; sometimes I didn’t know who I was anymore. 

I can say that being 24 means a lot for me. Many things have happened, like what I posted below. Twenty-four was so life-changing. Honestly, I am so surprised to be at this point right now. I learned so many things last year I can finally understand the reason for some things.

So, I decided to do something cliche that some people do on their birthday; writing down the X number of things they have learned so far in their life.

Here we go.

1 -  Karma is real.
Yep, you have to pay for what you've done. And from what I've learned, karma is not only about this current lifetime, but you also have to 'pay' for all lessons you didn't learn in your past-lives, you have to go through the deals that had been made in-between lives. It would be a very long post to explain it (but I'm open for any discussion about it tho'). So, what to do? To sum it up: everything has reason. Life is more than just this. Just choose to be and do good every single time.

2 -  Your life, your choice.
Because life is more than what your parents/teachers/society tell you. Find your own way, create your own path; the one that feels right to you, the one that you want.

3 - "Spirituality is your relationship with the Divine, religion is crowd-control."
What I'm trying to say is do what you believe, don't let anyone dictate you. Connect with your spiritual realm; go to church, pray, read Al-Quran.... ANYTHING that make you feel that peace, connected with the Divine, Guides, God, Allah, or anything you call Him. It's all the same, anyway, because we all come from the same Light. We all come from the One.

4 -  Go outside the comfort zone.
Because that's exactly where you will find yourself.

5 - Let yourself feel all the feelings.
Let yourself be sad, happy, angry, jealous, disappointed, peace, hopeful, faithful.. anything. If you want to cry even though you're alone in the middle of nowhere, just cry (#truestory), if you want to dance, just dance, jump, leap! If you want to be angry because someone hurts you, just be angry.

6 - But don't let it rule you.
Or make you do bad things to others. Remember, it's okay to be angry, but it's never okay to be cruel. Don't hurt people, either with things or even with your words. Don't try to put them down. Just.. love one another. 

7 - Be happy now.
Choose it. Live in the present; right here, right now. Life is like a splendid wondrous amazing school. You learn so many lessons here, but at the same time it offers you thousand beauties everywhere. Enjoy it.

8 - Spend time with your family and loved ones.
Don't take them for granted. It doesn't need to be a family- for some people have a very different definition of 'family'- but what I'm trying to say is cherish every moment with people you love. I don't get close with people easily though I might seem welcome or friendly with almost everyone, but when I love someone- either it's my family or friends- I will make 'em my numero uno, for 'there isn't a fire that I wouldn't walk through'. Yep.

And oh, that's a lyrics from Coldplay's Army of One. 

9 - Take care of yourself.
Buy things that you need. Find time to recharge your soul, body, and mind. You can meditate, do yoga, running, or maybe spend an hour or two in your favorite coffee shop. Have a conversation with yourself. Connect with your intuition. Follow your gut. Eat healthy food. Choose the people you want to surround yourself with. There's nothing wrong in taking care of yourself. At the end of the day, you only have you. Be a good companion for yourself. To feel alone is totally normal- you can always call your loved ones- but don’t let it be the base of your relationship with others. Love yourself first. Be confident with your inner beauty. You’re worthy of love.

10 - You can't control everything.
Seriously.
1 comments