Pages

July 22, 2017

12:04 AM -- "COME ALL THAT MAY, I'LL DRIFT ON"

I'm so triggered to write this:

Bunuh diri itu bukan karena 
pengecut,
gak kuat iman,
gak bersyukur,
kurang piknik,
atau 
cari perhatian. 
No one wants to die. 
People just want to stop the pain. 

Uah, lega.

Soalnya gini,
beberapa orang berbeda; mereka hidup sendiri dan sulit mengekspresikan apa yang dirasa. Mungkin mereka tidak seberuntung banyak orang yang memiliki segudang teman. Mereka hidup bertahan hanya soal hari demi hari, dan sendirian.

It's all a silent battle.
A fight no one knows.
A fight not everyone understand.

Aku pernah ngomong 'aku mau mati aja' kira-kira sekitar 10 tahun lalu. That was the first time. Kalimat itu gak terlontar sambil tertawa canda, tapi waktu itu sambil nangis histeris. Aku benar memaknai kalimat itu.

Dan kalau ada orang bilang bahwa orang bunuh diri itu karena haus perhatian, umm no. Waktu aku ngomong kalimat itu, aku gak mikir setelah mati aku bakal jadi headline atau gimana reaksi orang-orang. Yang aku pikirkan adalah pokoknya aku mau rasa sakit ini berhenti.

Keinginan untuk bunuh diri bukan macam ide kreatif yang muncul dalam semalam; hal tersebut tumbuh perlahan dan akhirnya memuncak. Sebabnya gak selalu karena satu hal spesifik, tapi bisa karena banyak hal yang saling bertumpuk dan pada akhirnya rasa sakit melampaui kemampuan tubuh untuk menahan.

Aku punya 'issue'-ku sendiri sedari kecil dan 10 tahun lalu aku belum tahu caranya menangani diriku sendiri. Aku gak punya jalan keluar, aku belum tahu caranya buat 'be my own hero'.

Apa yang membuat bertahan dan melanjutkan hidup?
Berusaha menyadari bahwa ini semua akan berlalu.

Sekarang bukan berarti suicidal thought itu total hilang. Kadang muncul, apalagi kalau terpicu hal yang memang 'issue'-ku. It's indeed an endless battle. Dan selalu, yang membuatku bertahan adalah kesadaran bahwa ini semua cuma sementara.

Seiring waktu juga aku belajar buat menjadi penyelamat diriku sendiri. Aku belajar bahwa gak semua orang bisa ngerti apa yang aku alami, and that's okay. Jadi aku harus berjuang untuk jadi penyelamat diriku sendiri. This battle is against my own mind, and my friends,.. it's hard.

Buatku, melawan keinginan bunuh diri bukan soal perbanyak ibadah atau piknik, tapi lebih ke soal perjuangan mencintai diri sendiri. Susah sekali mencintai diri sendiri ketika hidup di dunia yang berisi orang-orang yang lebih suka menjatuhkan sesamanya.

Tapi semua ada plus dan minusnya.

Just because I have suicidal thought doesn't mean I'm a bad person. Justru, sejujurnya, perjuangan melawan ini semua lah yang membuat aku jadi lebih bisa berempati. Lebih mau mendengarkan kisah orang lain, siapapun dia. Lebih mau menghargai orang-orang di sekitarku. Lebih gak seenaknya dalam bersikap ke orang lain.

Because, we are all dealing in the same hell, just different devils.

Dan aku tahu aku gak sendiri. Banyak di sekitarku mungkin yang pernah mengalami hal serupa. Oleh karena itu, satu hal yang mau kusampaikan ke kamu: thank you, for staying alive. Keep going. You're doing good.

This too shall pass. We will get through this. 
0 comments

July 15, 2017

06:47 PM -- FRIENDSHIP IS A RARE THING

Friendship is a rare thing.

Most people are just.. the people we work with, the people we study with, or the people we hang with. We mistake them as friends.

We do things with them without a shared connection.

But friendship has that connection. It's built based on connection, trust, and respect. Those are what make you want to show love.

Talking about love doesn't always mean talking about falling in love. It's different. You can show love without having a romantic feeling towards someone. Love is an act, it's not a feeling, bruh. It's what you need to show to everyone, and mostly, to the people you share the connection with.

Love is about asking why and what we can help to make someone's day a bit brighter.
Love is when you tell someone to be careful.
Love is about how to be always there when they need you.
Love is listening to their blabbers.
Love is forgiving, and understanding.
Love is to put yourself before them.
Love is to think about their needs, too. Not only your own.

See. It doesn't always have to involve a romantic feeling.

But,
if you're lucky,
one day you can share that connection and show the love you have to someone very special, until the very end of your life. That someone you share this journey with in a very deep connection and, of course, romantically. Yeah, all the butterflies and endless thought about them.

Deep connection comes with deep trouble. You get to be so involved in someone's life, emotion, and feelings. Ugh, I know.. I don't know if I could cope with that too, but the thought about having this kind of adventure really excites me.

Okay, let's get back to this friendship thing.

I  always think I have so many friends in my life, while apparently, they're not friends. It took 20-ish years of my life to finally realize that I'm an introverted-extrovert and it plays a big role in my friendship field.

People say I'm such a friendly creature. Well.... I am (I guess?). It's just nice to be nice, to have all the positive energy around you. But why, I often get so lonely? Like, I have no one to share my story?

I am now 26 years old. I am fully understand what friendship means. I have.. *counting* ..approx 5 people in my life whom I can share literally almost everything. And thankfully, they want to listen to me. And I want to listen to them, too! See, that's mutual and now I tell you; it's rare that I want to listen to people sincerely & effortlessly. So when I find myself sitting down listening to someone and know that I can share my story, too.. that's friendship.

Five is not a big number, I know..
But I'm happy with it. I'm thankful.
It's enough.
0 comments

May 25, 2017

12:25 PM --- PATAH HATI

Kalau mau kupikir-pikir, hari patah hatiku itu sebenarnya hari Rabu 24 Mei kemarin..

Diawali dari kabar bom di Manchester, gak lama bom di Kp Melayu, daaaan.. malamnya waktu aku baru bisa cek Twitter dengan seksama, menemukan info bahwa Vindhya dan Sobar berpulang ketika di Ende.

Patah hati, karena melihat gimana manusia bisa sebegitu jahatnya terhadap manusia lain. Patah hati, karena dua orang yang baik malah pergi lebih dulu.

Hidup itu ringkih sekali ya. Mati itu bukan sesuatu yang terlintas di pikiran ketika usia masih dibilang muda. Tapi yang terjadi hari ini membuatku berpikir bahwa kematian gak pernah jadi urusan nanti. Kematian adalah urusan manusia di tiap detiknya. Tinggal soal kita; hidup mau dijalani dengan bagaimana?

Vindhya dan Sobar. Sepasang sahabat traveler yang lebih pecah-eksis-gokil dibanding Naya dan Jebraw mungkin menurutku. Vindhya mengatur trip organizer @ibupenyu dan membuat pantai-pantai di Indonesia jadi lebih mudah diakses. Gila, gak banyak trip organizer mau mengurus trip ke Togean dari Jakarta sih, karena itu sama sekali bukan bercandaan.. Sedangkan Sobar, sahabatnya, juga mengurus LikeThisAdventure.

Dari Vindhya dan Sobar aku banyak belajar soal hidup dengan sepenuh hati. Aku suka membaca kisah mereka yang gak banyak pretensi, diskusi yang jujur dan kadang sedikit konyol di antara sepasang sahabat. Hidup itu soal dibawa senang, soal dibawa ketawa. 


Instagram @vindhyaaa

Aku gak kenal personal Vindhya dan Sobar, tapi raut muka mereka berdua, sejauh ini, adalah raut muka manusia yang rasa-rasanya gak ada kuatirnya. Mungkin itu rasanya hidup tanpa pura-pura ya? Tanpa peduli apa kata orang, karena kita sudah merasa cukup menjalaninya dengan hati. Gak perlu pengakuan, karena kita begini adanya sudah cukup dan hidup itu untuk dijalani, bukan dipameri.

Instagram @sobarjackson

Rasa kehilangan di antara kawanan Vindhya dan Sobar sangat besar. Aku yang bukan lingkar dua apalagi satu bisa ikut merasakannya. Energi mereka berdua memang selalu menular, sampai-sampai ketika mereka pergi, rasanya seakan mereka membawa serpihan bumi ini dan meninggalkan lubang kosong yang gak bisa diganti.

Vindhya dan Sobar meninggal hotel di Ende, Kupang. Vindhya terkena sengatan arus listrik dari shower di kamar mandi hotel. Sobar berusaha membantu, tapi ikut tersengat. 

 "Katanya, saat travelling, kita bisa lihat sifat dan sikap asli dari seseorang. Saat ada kawan yang dapat menjaga, mau berbagi, dan memberi support, yakinlah bahwa dia adalah sahabat terbaik yang akan ada di sebelahmu ke mana pun kamu berjalan." - @ibupenyu
  
Terima kasih ya, Vindhya dan Sobar, telah mengajarkan bagaimana hidup dengan sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati, di kehidupan yang ringkih ini. 

\\\V
1 comments

May 13, 2017

02:09 AM -- SOAL ADIL DAN GAK ADIL

Aku benci segala sesuatu yang gak adil. Walau itu terjadi pada orang lain, pokoknya mah begitu melihat segala sesuatu yang berbau gak adil.. anaknya bisa langsung emosian dan kebawa perasaan. Hahaha.

Jadi.. bisa dibayangkan gimana perasaanku waktu tahu Ahok divonis 2 tahun penjara.

Berbeda dengan beberapa orang yang langsung mencak-mencak di sosial media saat vonis turun, aku butuh beberapa saat (baca: hari) buat mencerna perasaanku sendiri. Waktu itu aku cuma chat satu teman yang dulu pernah jadi staf khusus gubernur DKI. Isi chat-nya cuma aku yang ngoceh-ngoceh 'gimana nih' dan 'aduh speechless' tanpa berhasil menemukan jawaban, atau solusi, atau penghiburan yang aku cari.

Kecenderunganku soal menghadapi masalah, aku lebih sering mengamati sekitarku dulu sambil mencerna perasaanku sendiri, baru kemudian mengambil sikap harus seperti apa. Anaknya agak lelet, memang.

Jadi, setelah 3 hari, setelah ribuan lilin dari seluruh Indonesia dan paduan suara yang bikin merinding di BalKot, setelah beberapa malam menghabiskan 12AM-2AM buat mikir, baru aku akhirnya mencapai satu pemahaman.

Soal adil dan gak adil, jelas apa yang menimpa Ahok itu gak adil. Banget. Tapi kemudian aku berpikir, memang hidup itu akan ada masanya ketika dia gak adil, dan mungkin akan selalu gak adil. Kalimat ‘Tuhan tidak buta’ itu bisa dibilang benar, tapi dulu kukira kelanjutannya adalah ‘Tuhan tidak buta, Dia yang akan membalas’.

Semalam, aku akhirnya sadar yang jadi kelanjutan kalimat tersebut mungkin sebenarnya adalah ‘Tuhan tidak buta, tapi bukan berarti Dia akan membalas setimpal’.

Karena.. hidup itu soal perjalanan. Kadang jatuh dan disalah-sangka, tapi kadang berada di puncak dan dipuja. Kadang jatuh terus bangun, tapi ada juga yang jatuh dan gak akan bisa bangun. Tapi apapun bentuk perjalanan ini, tugas kitalah untuk terus mengingat kodrat kita; raga yang fana dengan jiwa yang kekal. Lakukan apa yang dibutuhkan oleh jiwa kita, bukan mengikuti ego yang sifatnya serba sementara.

Jiwa kita butuh untuk menyelesaikan perjalanan hidupnya sendiri dengan baik. Kalau Ahok sekarang dipenjara dan dia bergantung pada harapan bahwa suatu saat nanti dia akan bebas lalu mereka yang jahat pada dirinya akan dihukum, ia bisa kecewa dan meninggalkan kehidupan spiritualnya karena belum tentu pembalasan akan terjadi. Belum tentu jalan hidupnya akan seperti itu.

Tapi kalau Ahok saat ini dipenjara dan yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana di tengah situasi apa pun ia ingat siapa dia dan dari mana ia berasal- bahwa semua manusia itu berasal dari Satu yang sama, bahwa semesta mencatat perjalanan manusia, bahwa ia berkesempatan buat menjadi sosok yang lebih baik lagi, dan bahwa hidup bukan hanya soal yang terlihat oleh mata- aku berani jamin dia tidak akan meninggalkan kehidupan spiritualnya. Dan malah mungkin bisa makin kuat, karena jiwanya yang diberi peran. Bukan ego.

Pada akhirnya aku pun mengerti; bahwa hidup itu bukan soal adil dan gak adil. Capek kalau hanya berharap pada keadilan di tengah dunia yang acak-acak. Kamu akan kecewa. Hidup itu soal perjalanan yang diselesaikan dengan baik dan dengan cara yang sesuai dengan kodrat jiwa manusia; love, kindness, peace, light, and compassion. Kebaikan itu tidak ada ujungnya dan kasih itu tidak memerlukan alasan.

Sedikit menyinggung, agama itu bukan alat buat saling menyerang. Aku percaya itu. Walau bukan pengikut agama, aku percaya bahwa agama diciptakan buat membawa kebaikan di hubungan antar manusia. Jadi, sebenarnya kalau agama kita dan kehidupan spiritual kita makin kuat, seharusnya kita makin mengasihi manusia lainnya, tanpa syarat apapun.

Tapi semuanya itu kembali pada pilihan kita sendiri. We’ve been granted with freewill, and all I can ask is please, choose well.

“Always remember that we are not a body with a soul; we are souls living in human body.”

 Cahaya Purnama akan selalu terang, walau berusaha dihalangi.
Gambar karya @rivaramanda


\\\V
0 comments

January 30, 2017

09:53 PM -- ANALOGI ANALOG

Di tengah era digital, jatuh cinta dengan kamera analog itu merepotkan dan sedikit menyebalkan.

Di tengah orang-orang yang bisa memotret 'tanpa' mikir, aku harus menimbang-nimbang panjang sebelum menekan tombol shutter. Harga roll film yaa lumayan ya dan 36 exposure sungguh lewat begitu saja kalau kita asal klik. Belum lagi harus sabar menunggu hasilnya, sementara orang-orang lain tinggal preview lalu tekan delete dan foto ulang jika tidak puas. Aku harus menunggu sampai film sudah dicuci dan scan, baru bisa melihat hasil foto-fotoku. Bersyukur kalau lighting dan fokus waktu motret pas, karena kalau ternyata hasilnya tidak sesuai yang diinginkan, dan apalagi terbakar, hanya bisa tertawa.. miris.

Sementara orang-orang sepulang hunting foto langsung bisa transfer file ke laptop dari SD card, aku harus melewati proses ini: mengantarkan film ke tempat cuci di Pegangsaan, menunggu 2-3 hari, menanti datangnya link Dropbox di e-mail, baru akhirnya menerima hasilnya. Itu kalau lagi gak bokek. Kalau bokek, lain lagi ceritanya. Alamat roll-roll film cuma nangkring begitu saja sampai hari gajian tiba. Yha.

Repot dan mahal. Kalau digabung-gabung, dari harga kamera, film, sampai usaha cuci cetaknya mungkin kalau terus diakumulasi bisa menyaingi harga 1 kamera digital. Hahahaha, gak deh ini berlebihan

Awal aku pengen motret dengan kamera analog karena pengen belajar sabar. Di tengah segala yang serba instan, rasanya sah-sah saja mengeksploitasi gadget untuk memenuhi segala keinginan, termasuk motret. Jepret sana, jepret sini.. preview, gak suka, delete. Ulang terus seperti itu. Kalau kamera  agak lemot, sedikit grasa-grusu dan ngedumel.


Dan memang, kesabaran terlatih sungguh lewat bermain-main dengan kamera analog.

Proses panjang yang dilalui, termasuk gak bisa melihat langsung hasil foto, membuat kesabaran terlatih benar. Makanya, gak ada yang bisa ngalahin rasa seru begajulan sendiri begitu dapat e-mail link download hasil scan cucian film. Beneraaaan deh! Terus begitu melihat-lihat hasilnya, pasti ditemani rasa nostalgia dan kaget. Suatu hal yang pasti adalah menemukan satu-dua foto yang bikin mikir; 'kapan gue motret ini ya?'

Dan bonus, memotret dengan analog itu hasilnya selalu penuh kejutan. Apa yang terlihat mata ketika memotret belum tentu akan tercetak sama di roll film.


Memotret dengan kamera analog rasanya seperti menghentikan waktu, seakan menggenggam serta mengantongi detik dan menit yang berlalu. Semua itu kemudian disimpan, mungkin luput dan tertindih dengan memori baru serta mulai terlupa, hingga suatu saat kita membukanya kembali dan masa lalu datang menyapa seperti teman lama; dengan ramah mengingatkan dan sedikit membawa kejutan.


Kamera analog pertamaku adalah Vinon 500em. Kamera tua.. yang harusnya udah pensiun, karena hasilnya suka-suka dia. Tua-tua keladi, istilahku, soalnya udah tua tapi keras kepala gak bisa diatur. Sejak aku membeli kamera kedua, si Vinon ini lebih banyak istirahatnya, jarang diisi ulang roll film, karena sudah paham resiko hasilnya. Saat ini lebih sering jalan-jalan dengan Fuji Silvi 115, a compact camera, sambil mencari-cari lagi yang baru.


Lewat drama cuci-scan dan mencoba kalem menunggu abang Gojek mengantarkan roll film, aku mendapatkan yang aku inginkan; dilatih sabar. Rasa sabarnya nagih; candu sekali membeli roll film baru dan merencanakan ke sana ke sini untuk motret. Banyak gaya memang. Aku jauh dari istilah 'jago motret', jauh lah dari kakak-kakak di #35mmklub, tapi asal diri ini senang, kenapa harus diberi beban yang tidak perlu? Memotret dengan analog ini menjadi satu kesenanganku di tengah sibuk pekerjaan, dan aku bersyukur untuk itu. 


0 comments

December 18, 2016

01:39 PM --- MUSIK DAN RASA JUJUR


Salah satu hal yang suka luput dari acara musik adalah aspek kecintaan terhadap musik itu sendiri. Gak kelihatan, tapi bisa terasa, dan efeknya lumayan besar. Sayangnya, soal ini bukan sesuatu yang bisa diatur dan direncanakan.

Tapi mungkin bisa diusahakan. Mungkin.

Kecintaan terhadap musik di sini maksudnya pada orang-orang yang datang ke festival musik. Apakah datang karena memang tahu dan suka dengan musik yang ditampilkan? Atau, hanya karena ikut-ikutan semata supaya dianggap keren, kekinian, atau apapun itu?

Coachella adalah salah satu festival musik tahunan yang paling ditunggu di California. Di tahun 2013, tim Jimmy Kimmel pernah membuat Lie Witness News di Coachella. Singkat ceritanya, mereka mewawancara pengunjung Coachella tentang band, yang sebenernya palsu.

Hasilnya? Banyak dari para pengunjung yang ternyata tahu akan band palsu itu, dan gak sabar menonton penampilan mereka di Coachella. Lucu ya, hahaha.


Intinya sih, video ini nunjukkin kalau banyak dari pengunjung Coachella yang ternyata mahir berpura-pura demi kekerenan semata.

Ini maksudku soal kecintaan terhadap musik itu sendiri. Datang ke acara musik karena pengen menikmati musiknya, bukan buat vlogging, selfie, IG stories, dan gegayaan aja. Gak ada yang salah sih kalau datang cuma buat seru-seruan, tapi vibe festivalnya gak bisa dibohongi.

Synchronize Festival di akhir Oktober lalu adalah salah satu acara musik yang sangattt aku nikmati. Festival ini multi-genre, dan rasanya orang-orang yang datang memang karena ingin menikmati musiknya. Bohong sih kalau dari ratusan line-up yang ada aku mengaku mendengarkan semuanya. Tentu enggak. Begitupun orang-orang yang lainnya rasa-rasanya. Tapi yang pasti, tiap band mempunyai penontonnya sendiri.


Ada 4 panggung di sana yang aku lupa namanya, cuma ingat District Stage (karena di sana tempat HMGNC tampil, heheu). Di jadwal, HMGNC tampil pukul 14:15. Sekitar setengah jam sebelum, beberapa orang sudah mangkal di sekitaran District Stage yang kosong dan tepat pukul 14:15, Grahadea dan Dina naik panggung serta disusul Debby gak lama kemudian (Debby saat itu menggantikan Manda yang masih berduka). Orang-orang langsung berkumpul ke depan panggung. Hanya 6 lagu yang dibawakan. Tepat setengah jam kemudian sesuai jadwal,  HMGNC turun panggung.

Hm, festival musik yang tepat waktu.

Lalu kami berkeliling lagi menanti Elephant Kind di stage lainnya. Saat itu, stage tersebut masih diisi Komunal dan crowd-nya pun milik mereka. Aku cukup menonton dari jauh. Gak lama mereka selesai, massa yang berbeda segera berkumpul di depan panggung tersebut, menanti Elephant Kind.                    

Setelah Elephant Kind, kami berputar mencari makan. Kebetulan food area ada di dekat salah satu stage dan saat itu di stage tersebut Agrikulture sedang berteriak-teriak Disko di Rumah. Mereka yang di depan stage lagi sibuk berdansa sambil setengah tipsy karena amer, mungkin, hihi. Bukan pengikut setia Agrikulture, tapi walau hanya melihat dari jauh, aku menikmati suasana dan keceriaan crowd depan panggung yang asik berdansa dengan Agrikulture. 

Foto oleh @sancoyopurnomo 

Aku pernah datang ke acara musik yang rasa-rasanya para pengunjung yang datang gak bertujuan untuk menonton musiknya. Waktu itu vibe tempatnya berisi orang-orang yang lebih asik menikmati beer & wine daripada menonton musisi yang tampil. Aku datang karena ingin menonton Santamonica, walau ada juga band yang lain, tapi berhubung waktu itu adalah penampilan pertama Santamonica setelah 3 tahun absen, jadinya prioritasku ada di mereka donggg. Dan bisa ditebak, ketika Santamonica tampil, penontonnya bengong dan acuh-tak-acuh. Dan rasanya kalau diperhatikan (dan diingat-ingat sambil malu), I was the only one dancing.

Sebenarnya antara peduli-gak peduli soal aspek kesukaan terhadap musik ini, toh tiap orang punya tujuan dan kesukaannya masing-masing, tapi memang kuakui beda sekali rasanya. Berada di crowd yang jujur rasanya batas antara teman dan orang asing jadi bias. Aku pernah sekali datang ke Oktobeerfest dan HMGNC tampil pecah sekali. Semua orang menari. Aku awalnya hanya sendiri di depan panggung, tapi lambat laun karena asyik menari, aku pun tiba-tiba jadi menari dengan seseorang tanpa disadari, hahaha. Ketika HMGNC turun panggung, barulah kita berkenalan.

Pulang dari Oktobeerfest, I felt really energized. Pengalaman yang menyenangkan sekaligus magis. It’s magical how music conquers all the barriers, and people are dancing together.

Dan bukankah itu tujuan musik? Mempersatukan orang-orang, sehingga bisa menari bersama, sejenak melupakan masalah yang ada, dan menikmati moment yang ada. Right here, right now.
1 comments

November 27, 2016

02:05 PM -- BURNED FILMS

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

Who knew that burned films can be this beautiful?

Kalau dilihat satu-satu gak bakal ada bagusnya sih, tapi begitu dikumpulkan, kombinasi warnanya jadi cantik. 

Sama seperti hidup mungkin ya; setiap masalah kalau dijalani pasti gak enakin. Tapi begitu sudah dilalui dan melihat ke belakang, perjalanan manusia pasti indah dengan alurnya masing-masing.
0 comments

November 21, 2016

10:21 PM

Tentang pertemuan, tentang perpisahan, tentang air mata, tentang tawa lepas, hidup selalu mempunyai tujuan di baliknya. Perjalanan panjang hidup manusia bukannya yang tanpa makna. Hanya kadang kita yang lupa membuka mata. 

Manusia serba terbatas dengan 5 inderanya. Kita memahami hanya apa yang bisa kita lihat, dengar, cium, rasa, dan raba. Kita tidak terbiasa untuk menjalani dengan hati; sesuatu yang tidak terlihat dan hanya bisa kita percaya. 

Peristiwa yang terjadi di dalam hidup kadang melumpuhkan saya dengan segala tanyanya. Mengapa harus bertemu jika pada akhirnya hanya saling menyakiti, mengapa harus intim jika akhirnya hanya untuk saling merasa asing, dan mengapa harus berbagi jika pada akhirnya hanya untuk merasa kecewa?

Perlu waktu lama untuk bisa kembali bangkit. Tanpa pertolongan, tanpa jawaban. Hanya keinginan untuk tidak sedih walau terus diiringi tanya. Hanya dengan tekad kuat dan keyakinan penuh bahwa semesta tidak pernah mengecewakan. 

Tentu saya akan hancur jika bertahan hidup hanya dengan 5 indera, karena saya pun begitu kehilangan sosoknya; wajahnya, kehadirannya, wanginya, dan suaranya. Tapi saya tahu, hidup tidak akan pernah mengambil tanpa menggantikan. Ia adil, hanya saja definisinya kadang berbeda, karena tidak bisa diukur dengan kasat mata. Harus lewat hati.

Dan pada akhirnya, saya bisa di sini menulis dan menyimpulkan kisah terakhir yang dijalani tanpa perlu terikut oleh perasaan lama. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Jika bukan dengan siapa-siapa, paling tidak dengan diri saya sendiri.
0 comments

September 10, 2016

09:06 PM -- AS IT SHOULD BE

All is as it should be.

It's how I see life and perceive things that happen in my life. When things get rough, remember that there's always a bigger plan out there, reasons we don't understand yet. 

All is as it should be. And life keeps moving. Be happy.

--

It's a quote from Anne Frank.
0 comments

September 8, 2016

10:00 PM

Saya salah satu orang yang suka nostalgia. Salah satu caranya dengan melihat foto-foto lama. Ada sesuatu yang menghangatkan tentang nostalgia; berkunjung ke masa lampau, tapi dengan pola pikir dan sudut pandang yang sudah berbeda. 

Sesuatu yang menghangatkan. Saya belum pernah bisa mendefinisikan jelasnya bagaimana dan apa, tapi malam ini, setelah melihat-lihat foto lama di dokumen laptop, saya sedikit bisa memahami mengapa saya begitu menyukai nostalgia.

Mungkin, ketika saya melihat foto lama, saya teringat akan apa yang pernah saya lalui hingga ada di titik ini.
Saya teringat akan mereka yang pernah ada, dan masih ada sampai sekarang. Saya bersyukur sekali untuk itu.
Akan mereka yang pernah ada, dan sudah memutuskan untuk pergi. Saya juga bersyukur, karena pelajaran yang diberi dari tiap pribadi sangat berharga.
Akan ingatan-ingatan tentang masa menyenangkan di waktu dulu, yang mungkin saat mengalaminya langsung dulu saya gak sadar betapa menyenangkannya hal tersebut. Dan sekarang, melihat masa-masa tersebut kembali namun dengan sudut pandang yang berbeda membuat saya bisa memahami serta merasa dicintai. 

Dicintai, bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan hidup ini. Semesta ini. Semuanya itu indah dan punya maksud. Segala yang saya tempuh dan tiap manusia yang saya jumpai membawa makna tersendiri, membentuk diri saya jadi seperti ini.

Jadi, mungkin ini mengapa saya suka nostalgia melihat foto lama; karena saya selalu diingatkan betapa saya sangat beruntung dan dicintai oleh hidup ini lewat segala perjalanan yang sudah saya tempuh, dan akan tempuh.

Selalu.

Mid 2014, masa Pilpres, masa paling bikin deg-degan (sekaligus menyenangkan, hehe) selama kerja di Metro TV sejauh ini
0 comments

August 5, 2016

11:45 PM -- 11/8/5

Hari ini saya menyelesaikan satu fase di dalam hidup saya. Satu fase yang manis dan pahit. 

Selalu ya? Hehe, hidup selalu manis dan pahit. Dua sisi yang tidak pernah bisa dipisahkan atau dipilih salah satunya. 

Fase ini manis, karena banyak sekali pelajarannya. Woah. Saya hari ini berkat fase yang saya lalui kemarin. Belum lagi di fase ini saya selalu dikelilingi oleh mereka yang menyenangkan. Lewat fase ini saya belajar untuk menjadi lebih.. saya.

Kalau soal pahit, ya, pelajaran yang baik tidak mungkin diberi begitu saja. Di fase inilah saya merasakan sepi yang paling hakiki, hahaha. Kesepian, sendiri, dan merindukan banyak hal. 

Tapi lewat sepi itu justru saya belajar menciptakan nyanyian saya sendiri. Pahit dan manis, tidak bisa dipisahkan. 

Anyway,
cheers for a new beginning! :)
0 comments