Pages

January 30, 2017

09:53 PM -- ANALOGI ANALOG

Di tengah era digital, jatuh cinta dengan kamera analog itu merepotkan dan sedikit menyebalkan.

Di tengah orang-orang yang bisa memotret 'tanpa' mikir, aku harus menimbang-nimbang panjang sebelum menekan tombol shutter. Harga roll film yaa lumayan ya dan 36 exposure sungguh lewat begitu saja kalau kita asal klik. Belum lagi harus sabar menunggu hasilnya, sementara orang-orang lain tinggal preview lalu tekan delete dan foto ulang jika tidak puas. Aku harus menunggu sampai film sudah dicuci dan scan, baru bisa melihat hasil foto-fotoku. Bersyukur kalau lighting dan fokus waktu motret pas, karena kalau ternyata hasilnya tidak sesuai yang diinginkan, dan apalagi terbakar, hanya bisa tertawa.. miris.

Sementara orang-orang sepulang hunting foto langsung bisa transfer file ke laptop dari SD card, aku harus melewati proses ini: mengantarkan film ke tempat cuci di Pegangsaan, menunggu 2-3 hari, menanti datangnya link Dropbox di e-mail, baru akhirnya menerima hasilnya. Itu kalau lagi gak bokek. Kalau bokek, lain lagi ceritanya. Alamat roll-roll film cuma nangkring begitu saja sampai hari gajian tiba. Yha.

Repot dan mahal. Kalau digabung-gabung, dari harga kamera, film, sampai usaha cuci cetaknya mungkin kalau terus diakumulasi bisa menyaingi harga 1 kamera digital. Hahahaha, gak deh ini berlebihan

Awal aku pengen motret dengan kamera analog karena pengen belajar sabar. Di tengah segala yang serba instan, rasanya sah-sah saja mengeksploitasi gadget untuk memenuhi segala keinginan, termasuk motret. Jepret sana, jepret sini.. preview, gak suka, delete. Ulang terus seperti itu. Kalau kamera  agak lemot, sedikit grasa-grusu dan ngedumel.


Dan memang, kesabaran terlatih sungguh lewat bermain-main dengan kamera analog.

Proses panjang yang dilalui, termasuk gak bisa melihat langsung hasil foto, membuat kesabaran terlatih benar. Makanya, gak ada yang bisa ngalahin rasa seru begajulan sendiri begitu dapat e-mail link download hasil scan cucian film. Beneraaaan deh! Terus begitu melihat-lihat hasilnya, pasti ditemani rasa nostalgia dan kaget. Suatu hal yang pasti adalah menemukan satu-dua foto yang bikin mikir; 'kapan gue motret ini ya?'

Dan bonus, memotret dengan analog itu hasilnya selalu penuh kejutan. Apa yang terlihat mata ketika memotret belum tentu akan tercetak sama di roll film.


Memotret dengan kamera analog rasanya seperti menghentikan waktu, seakan menggenggam serta mengantongi detik dan menit yang berlalu. Semua itu kemudian disimpan, mungkin luput dan tertindih dengan memori baru serta mulai terlupa, hingga suatu saat kita membukanya kembali dan masa lalu datang menyapa seperti teman lama; dengan ramah mengingatkan dan sedikit membawa kejutan.


Kamera analog pertamaku adalah Vinon 500em. Kamera tua.. yang harusnya udah pensiun, karena hasilnya suka-suka dia. Tua-tua keladi, istilahku, soalnya udah tua tapi keras kepala gak bisa diatur. Sejak aku membeli kamera kedua, si Vinon ini lebih banyak istirahatnya, jarang diisi ulang roll film, karena sudah paham resiko hasilnya. Saat ini lebih sering jalan-jalan dengan Fuji Silvi 115, a compact camera, sambil mencari-cari lagi yang baru.


Lewat drama cuci-scan dan mencoba kalem menunggu abang Gojek mengantarkan roll film, aku mendapatkan yang aku inginkan; dilatih sabar. Rasa sabarnya nagih; candu sekali membeli roll film baru dan merencanakan ke sana ke sini untuk motret. Banyak gaya memang. Aku jauh dari istilah 'jago motret', jauh lah dari kakak-kakak di #35mmklub, tapi asal diri ini senang, kenapa harus diberi beban yang tidak perlu? Memotret dengan analog ini menjadi satu kesenanganku di tengah sibuk pekerjaan, dan aku bersyukur untuk itu. 


No comments: