Pages

May 13, 2017

02:09 AM -- SOAL ADIL DAN GAK ADIL

Aku benci segala sesuatu yang gak adil. Walau itu terjadi pada orang lain, pokoknya mah begitu melihat segala sesuatu yang berbau gak adil.. anaknya bisa langsung emosian dan kebawa perasaan. Hahaha.

Jadi.. bisa dibayangkan gimana perasaanku waktu tahu Ahok divonis 2 tahun penjara.

Berbeda dengan beberapa orang yang langsung mencak-mencak di sosial media saat vonis turun, aku butuh beberapa saat (baca: hari) buat mencerna perasaanku sendiri. Waktu itu aku cuma chat satu teman yang dulu pernah jadi staf khusus gubernur DKI. Isi chat-nya cuma aku yang ngoceh-ngoceh 'gimana nih' dan 'aduh speechless' tanpa berhasil menemukan jawaban, atau solusi, atau penghiburan yang aku cari.

Kecenderunganku soal menghadapi masalah, aku lebih sering mengamati sekitarku dulu sambil mencerna perasaanku sendiri, baru kemudian mengambil sikap harus seperti apa. Anaknya agak lelet, memang.

Jadi, setelah 3 hari, setelah ribuan lilin dari seluruh Indonesia dan paduan suara yang bikin merinding di BalKot, setelah beberapa malam menghabiskan 12AM-2AM buat mikir, baru aku akhirnya mencapai satu pemahaman.

Soal adil dan gak adil, jelas apa yang menimpa Ahok itu gak adil. Banget. Tapi kemudian aku berpikir, memang hidup itu akan ada masanya ketika dia gak adil, dan mungkin akan selalu gak adil. Kalimat ‘Tuhan tidak buta’ itu bisa dibilang benar, tapi dulu kukira kelanjutannya adalah ‘Tuhan tidak buta, Dia yang akan membalas’.

Semalam, aku akhirnya sadar yang jadi kelanjutan kalimat tersebut mungkin sebenarnya adalah ‘Tuhan tidak buta, tapi bukan berarti Dia akan membalas setimpal’.

Karena.. hidup itu soal perjalanan. Kadang jatuh dan disalah-sangka, tapi kadang berada di puncak dan dipuja. Kadang jatuh terus bangun, tapi ada juga yang jatuh dan gak akan bisa bangun. Tapi apapun bentuk perjalanan ini, tugas kitalah untuk terus mengingat kodrat kita; raga yang fana dengan jiwa yang kekal. Lakukan apa yang dibutuhkan oleh jiwa kita, bukan mengikuti ego yang sifatnya serba sementara.

Jiwa kita butuh untuk menyelesaikan perjalanan hidupnya sendiri dengan baik. Kalau Ahok sekarang dipenjara dan dia bergantung pada harapan bahwa suatu saat nanti dia akan bebas lalu mereka yang jahat pada dirinya akan dihukum, ia bisa kecewa dan meninggalkan kehidupan spiritualnya karena belum tentu pembalasan akan terjadi. Belum tentu jalan hidupnya akan seperti itu.

Tapi kalau Ahok saat ini dipenjara dan yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana di tengah situasi apa pun ia ingat siapa dia dan dari mana ia berasal- bahwa semua manusia itu berasal dari Satu yang sama, bahwa semesta mencatat perjalanan manusia, bahwa ia berkesempatan buat menjadi sosok yang lebih baik lagi, dan bahwa hidup bukan hanya soal yang terlihat oleh mata- aku berani jamin dia tidak akan meninggalkan kehidupan spiritualnya. Dan malah mungkin bisa makin kuat, karena jiwanya yang diberi peran. Bukan ego.

Pada akhirnya aku pun mengerti; bahwa hidup itu bukan soal adil dan gak adil. Capek kalau hanya berharap pada keadilan di tengah dunia yang acak-acak. Kamu akan kecewa. Hidup itu soal perjalanan yang diselesaikan dengan baik dan dengan cara yang sesuai dengan kodrat jiwa manusia; love, kindness, peace, light, and compassion. Kebaikan itu tidak ada ujungnya dan kasih itu tidak memerlukan alasan.

Sedikit menyinggung, agama itu bukan alat buat saling menyerang. Aku percaya itu. Walau bukan pengikut agama, aku percaya bahwa agama diciptakan buat membawa kebaikan di hubungan antar manusia. Jadi, sebenarnya kalau agama kita dan kehidupan spiritual kita makin kuat, seharusnya kita makin mengasihi manusia lainnya, tanpa syarat apapun.

Tapi semuanya itu kembali pada pilihan kita sendiri. We’ve been granted with freewill, and all I can ask is please, choose well.

“Always remember that we are not a body with a soul; we are souls living in human body.”

 Cahaya Purnama akan selalu terang, walau berusaha dihalangi.
Gambar karya @rivaramanda


\\\V

No comments: