Pages

July 22, 2017

12:04 AM -- "COME ALL THAT MAY, I'LL DRIFT ON"

I'm so triggered to write this:

Bunuh diri itu bukan karena 
pengecut,
gak kuat iman,
gak bersyukur,
kurang piknik,
atau 
cari perhatian. 
No one wants to die. 
People just want to stop the pain. 

Uah, lega.

Soalnya gini,
beberapa orang berbeda; mereka hidup sendiri dan sulit mengekspresikan apa yang dirasa. Mungkin mereka tidak seberuntung banyak orang yang memiliki segudang teman. Mereka hidup bertahan hanya soal hari demi hari, dan sendirian.

It's all a silent battle.
A fight no one knows.
A fight not everyone understand.

Aku pernah ngomong 'aku mau mati aja' kira-kira sekitar 10 tahun lalu. That was the first time. Kalimat itu gak terlontar sambil tertawa canda, tapi waktu itu sambil nangis histeris. Aku benar memaknai kalimat itu.

Dan kalau ada orang bilang bahwa orang bunuh diri itu karena haus perhatian, umm no. Waktu aku ngomong kalimat itu, aku gak mikir setelah mati aku bakal jadi headline atau gimana reaksi orang-orang. Yang aku pikirkan adalah pokoknya aku mau rasa sakit ini berhenti.

Keinginan untuk bunuh diri bukan macam ide kreatif yang muncul dalam semalam; hal tersebut tumbuh perlahan dan akhirnya memuncak. Sebabnya gak selalu karena satu hal spesifik, tapi bisa karena banyak hal yang saling bertumpuk dan pada akhirnya rasa sakit melampaui kemampuan tubuh untuk menahan.

Aku punya 'issue'-ku sendiri sedari kecil dan 10 tahun lalu aku belum tahu caranya menangani diriku sendiri. Aku gak punya jalan keluar, aku belum tahu caranya buat 'be my own hero'.

Apa yang membuat bertahan dan melanjutkan hidup?
Berusaha menyadari bahwa ini semua akan berlalu.

Sekarang bukan berarti suicidal thought itu total hilang. Kadang muncul, apalagi kalau terpicu hal yang memang 'issue'-ku. It's indeed an endless battle. Dan selalu, yang membuatku bertahan adalah kesadaran bahwa ini semua cuma sementara.

Seiring waktu juga aku belajar buat menjadi penyelamat diriku sendiri. Aku belajar bahwa gak semua orang bisa ngerti apa yang aku alami, and that's okay. Jadi aku harus berjuang untuk jadi penyelamat diriku sendiri. This battle is against my own mind, and my friends,.. it's hard.

Buatku, melawan keinginan bunuh diri bukan soal perbanyak ibadah atau piknik, tapi lebih ke soal perjuangan mencintai diri sendiri. Susah sekali mencintai diri sendiri ketika hidup di dunia yang berisi orang-orang yang lebih suka menjatuhkan sesamanya.

Tapi semua ada plus dan minusnya.

Just because I have suicidal thought doesn't mean I'm a bad person. Justru, sejujurnya, perjuangan melawan ini semua lah yang membuat aku jadi lebih bisa berempati. Lebih mau mendengarkan kisah orang lain, siapapun dia. Lebih mau menghargai orang-orang di sekitarku. Lebih gak seenaknya dalam bersikap ke orang lain.

Because, we are all dealing in the same hell, just different devils.

Dan aku tahu aku gak sendiri. Banyak di sekitarku mungkin yang pernah mengalami hal serupa. Oleh karena itu, satu hal yang mau kusampaikan ke kamu: thank you, for staying alive. Keep going. You're doing good.

This too shall pass. We will get through this. 

No comments: