Pages

March 10, 2018

I once got so close with someone

And then he disappeared. 

Seperti kata Kak Teppy, SOP di dating-in-20s-30s adalah menghilang.

I do understand that, dan justru itu enaknya dating bukan? Bisa mendekat, lalu ketika merasa tidak cocok, ya silakan mundur. No baper included before a real commitment is made.

But that time, I was too attached. Attachment-nya beda; bukan karena baper (duh) tapi karena memang kedekatan di antara kami itu bukan hanya kedekatan dangkal. Kedekatan yang terlalu personal melewati batas apa yang bisa dilihat mata.

Jujur karena si brengsek inilah saya mulai percaya bahwa soulmate itu memang benar adanya. Karena si brengsek ini juga spirituality saya berubah. Ya gak sepenuhnya karena dia, tapi sekitar 60% bisa dibilang trigger-nya adalah dia. 

Kedekatannya gak lazim. Ketika saya melihat matanya, saya seperti melihat sosok yang saya kenal sejak lama, padahal kami baru berkenalan di hari itu. Segala sikapnya sangat familiar. Aneh sekali dan saya enggan mempercayainya tapi saya juga gak bisa memungkirinya. 

We met on a trip in 2015. The days we were together on trip were.. surreal. Nothing happened actually, but the bond that was created was too tight. When it's time to go home, I cried on the plane leaving his city I didn't even know why I just cried.

Lalu ada sekitar 8 bulan sampai akhirnya saya bisa bertemu langsung lagi dengan si brengsek itu. I flew to his city. We spent 2 days together. Dua hari itu rasanya kayak masuk ke satu dunia yang berbeda; seakan orang lain di dunia saya gak hadir lagi. Di dunia saya cuma ada dia. Yang saya kenal ya cuma si brengsek itu.

Dua hari itu gak ada makna, tapi berkesan. Dari cuma main di pantai, diajak ngider ke kilang minyak tempat kerjanya, nongkrong di kafe atas bukit, nonton film di laptop di rumah, makan bubur sambil lihatin orang ngablu karena nyimeng, terus ngobrol ngalor-ngidul, terus mau sarapan ke tempat enak tapi ternyata restorannya tutup akhirnya nyari restoran dimsum random dan keracunan bareng, terus mau main gitar ke pantai tapi pas otw ke pantai lupa bawa gitarnya terus muter balik ke rumah terus ban mobil pecah terus hape dia ketinggalan di tempat tambal ban, terus duduk di balkon rumah sore-sore sehabis gerimis sambil minum coklat bikinannya sambil bengong, terus main gitar di tepi pantai sore-sore, terus ketemuan sama teman lain, terus saya nungguin dia kerja di bar, terus pulang.

The night when it was the last time we were together, I cried. My heart was like.. crushed, without no logical reason. I swear it wasn't hormonal because I took my pill regularly. I trembly cried. I didn't have the logical answer because everything between us was fine that night. We said goodbye happily. But if someone asked me why I cried that night, I would have answered honestly: because that night it felt like it's the last time I could see his face. Because it felt like we won't meet again. Ever.

The morning after, I went to the airport alone. And when the plane took off leaving brengsek's city, the tears just wouldn't stop. I cried, on the plane, again. Felt like a shit dejavu, but this time.. nangisnya lebih deras.

I ain't no psychic, tapi ternyata benar; sejak 13 Desember 2015 sekitar pukul 23:00 WITA sampai detik ini, saya belum pernah bertemu dengannya lagi. Ia menghilang dari hidup saya sekitar 6 bulan kemudiannya, tanpa saya tahu pasti mengapa selain menduga soal ketidak-dewasaan dan temannya yang toxic. Or maybe it's just another karmic lesson. I still don't really understand why.

Dan inilah mengapa sejak 26 Februari 2016, ada tattoo ombak dan XII/XII di jari kelingking dan jari manis tangan kanan saya; karena setiap melihat laut saya mengingat dia, si brengsek yang sangat mencintai laut dan pantai tempat kami menghabiskan waktu bersama terakhir kalinya, serta XII/XII alias tanggal 12 bulan 12, tanggal di mana saya tiba di kotanya lalu menghabiskan dua hari yang rasanya abadi namun tenyata ada kadaluwarsanya.

Itu makna tattoo pertama saya, yang selama ini saya belum pernah ceritakan. Dua belas Desember. Tanggal yang akan saya ingat. Bukan tanggal jadian, bukan tanggal kiamat menurut Suku Maya, tapi tanggal di mana saya memberi kebebasan buat diri saya melakukan apa yang saya tahu saya mau kala itu; menemuinya dan bersenang-senang, walau berakhir menangis sendirian dengan dikelilingi pramugari yang kebingungan dan orang asing.

Dan kenapa saya nmenuliskan ini semua? Karena saya ingin melepaskan. Saya ingin membuka luka saya di depan mata saya sendiri. Terkesan masokis tapi dengan ini semoga saya sadar bahwa si brengsek itu bagian dari masa lalu yang tidak perlu selalu dibawa-bawa sampai detik ini.

Sama seperti trauma yang ketika kita hadapi dengan berani akan menghilang kekuatannya, karena kita sadar, segala rasa dari kejadian traumatis itu ada di masa lalu.

Dan hari ini adalah masa yang berbeda. Masa yang baru.

1 comment:

Anonymous said...

i can feel it